Kamis, 18 Februari 2010

Pemetaan Bahasa Provinsi Bali 2007


1.      Latar Belakang
Studi variasi bahasa dan kekerabatan bahasa-bahasa di Indonesia sudah cukup banyak dilakukan. Namun, hasil yang diperoleh masih menunjukkan adanya kesimpangsiuran jumlah bahasa di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah ketidakseragaman teori dan metode yang digunakan dalam menganalisis bahasa-bahasa di Indonesia. Selain itu, penelitian yang secara spesifik bertujuan untuk menentukan jumlah bahasa di Indonesia belum pernah dilakukan. Yang pernah dilakukan dalam jumlah yang lebih besar adalah kajian dialek geografi bahasa-bahasa tertentu melalui proyek pemetaan bahasa yang dilaksanakan tahun 1970-an sampai dengan pertengahan 1980-an oleh Pusat Bahasa. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian menyeluruh yang menerapkan satu teori dan metode yang sama, yang diharapkan dapat menjawab kesimpangsiuran informasi situasi kebahasaan bahasa-bahasa di Indonesia.
Pemetaan bahasa-bahasa perlu mendapat perhatian karena hasilnya banyak memberi manfaat, diantaranya dalam hal pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dan  pelestarian bahasa-bahasa daerah  sebagai unsur kebudayaan nasional. Dilihat dari sisi pengembangan bahasa, peta bahasa dapat memberikan gambaran umum mengenai situasi kebahasaan suatu daerah, setidaknya menginformasikan tentang jumlah bahasa daerah di Indonesia dan bahasa apa saja yang ada di Indonesia. Selain itu, dengan peta bahasa dapat diketahui bahasa daerah mana yang harus dilestarikan dan yang harus mendapat prioritas utama.
Pemetaan bahasa tidak hanya perlu dilakukan pada daerah-daerah yang multilingual, tetapi juga pada daerah-daerah monolingual. Di daerah-daerah multilingual, masalah sentuh bahasa sering terjadi. Di daerah ini masalah kebahasaan akan lebih kompleks dibandingkan dengan di daerah yang monolingual.
Pulau Bali, yang menjadi objek penelitian ini, termasuk ke dalam daerah dengan penduduk multilingual. Umumnya, penduduknya berbahasa ibu bahasa Bali, tetapi mereka dapat pula berbahasa Indonesia. Berdasarkan penelitian terakhir yang dilakukan oleh Tim Pemetaan Balai Bahasa Denpasar (2006), enam kelompok pemakai bahasa di wilayah provinsi Bali, yakni bahasa Bali, bahasa Melayu Loloan, bahasa Bugis, bahasa Sasak, bahasa Madura, dan bahasa Jawa. Bahasa Melayu digunakan di Desa Loloan (Kab. Jembrana). Penutur bahasa Sasak dapat dijumpai di Desa Bukit Tabuan (Kab. Karangasem) dan Desa Celukan Bawang (Kab. Buleleng). Bahasa Bugis dipakai oleh masyarakat di Desa Serangan (Denpasar) dan Desa Celukan Bawang (Kab. Buleleng), serta bahasa Jawa dan Madura digunakan di Desa Sumber Klampok (Kab. Buleleng).
Daerah Tingkat I Provinsi Bali terdiri dari enam pulau: Bali, Nusa Penida, Nusa Ceningan, Nusa Lembongan, Serangan, dan Menjangan. Pulau Bali adalah yang pulau terbesar, dan pulau Menjangan merupakan pulau yang tidak berpenghuni. Provinsi Bali terletak di antara pulau Jawa, di sebelah barat, dan pulau Lombok, di sebelah timur. Pulau Bali dari barat ke timur memiliki panjang 145 km (90 mil) dan dari utara ke selatan berukuran 80 km (50 mil). Pulau ini berpegunungan di tengah-tengah, memanjang dari barat ke timur, seolah-olah membelah pulau Bali menjadi dua wilayah yang terpisah, yaitu Bali Utara dan Bali Selatan. Pegunungan  itu adalah Gunung Batukaru, Gunung Batur, Gunung Abang, dan Gunung Agung, di mana Gunung Agung adalah yang tertinggi (3,142 m ).
Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, tim pemetaan Balai Bahasa Denpasar ingin mengetahui lebih jauh perkembangan bahasa-bahasa di provinsi Bali,  khususnya mengenai jumlah bahasa, dialek, atau subdialeknya, dan persebarannya. Selain itu, hubungan kekerabatan antarbahasa pun akan dikaji.
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya dan merupakan bagian dari proyek besar pemetaan dan kekerabatan bahasa-bahasa di Indonesia. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan penentuan isolek terhadap 33 daerah pengamatan. Untuk penelitian tahun ini terdapat tujuh daerah pengamatan baru yang akan diteliti yang terletak di lima desa: Melaya, Banyubiru (Kab. Jembrana), Sumber Kima (Kab. Buleleng), Wanasari (Denpasar), dan Tumbu (Kab. Karangasem).

2. Rumusan Masalah
Masalah pokok yang dibahas dalam penelitian ini menyangkut beberapa hal berikut.
  1. Deskripsi perbedaan unsur kebahasaan antardaerah pengamatan pada tataran fonologi dan leksikal.
  2. Penentuan daerah-daerah pengamatan yang menggunakan bahasa, dialek, atau subdialek yang sama.
  3. Sebaran geografis bahasa-bahasa, dialek atau subdialek-subdialeknya.
  4. Penentuan hubungan kekerabatan di antara bahasa-bahasa yang terdapat di wilayah provinsi Bali.

3.      Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat jumlah bahasa yang terdapat di provinsi Bali serta menemukan kantong-kantong bahasa tersebut. Di samping itu, penelitian ini juga bermaksud untuk memperlihatkan hubungan kekerabatan bahasa-bahasa yang terdapat di Pulau Bali.

4.      Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori
4.1 Tinjauan Pustaka
Penelitian yang secara khusus memetakan secara menyeluruh bahasa-bahasa di provinsi Bali telah dilakukan pada 2006 oleh tim pemetaan Balai Bahasa Denpasar. Dalam penelitian itu diketahui bahwa dari 33 daerah pengamatan terdapat enam kelompok pemakai bahasa di wilayah provinsi Bali, yakni bahasa Bali, bahasa Melayu Loloan, bahasa Bugis, bahasa Sasak, bahasa Madura, dan bahasa Jawa (lihat Peta 1). Persebaran bahasa-bahasa tersebut dapat dilihat di bawah ini.
  1. Kelompok Daerah Pengamatan Pemakai Bahasa Bali: Desa Nusasari, Bungbungan, Pengeragoan, Bantas, Wangaya Gede, Luwus, Tihingan, Baha, Kepaon, Pecatu, Pupuan, Saba, Klumpu, Toya Pakeh, Kampung Gelgel, Tenganan, Kecicang, Seraya, Tianyar, Jehem, Terunyan, Bukti, Pegayaman, Kayu Putih, Sepang, dan Banyu Poh.
  2. Kelompok Daerah Pengamatan Pemakai Bahasa Melayu Loloan: Desa Loloan.
  3. Kelompok Daerah Pengamatan Pemakai Bahasa Sasak: Dusun Bukit Tabuan dan Desa Celukan Bawang.
  4. Kelompok Daerah Pengamatan Pemakai Bahasa Bugis: Desa Serangan dan Desa Celukan Bawang
  5. Kelompok Daerah Pengamatan Pemakai Bahasa Madura: Desa Sumber Klampok
  6. Kelompok Daerah Pengamatan Pemakai Bahasa Jawa: Desa Sumber Klampok

Meskipun penelitian tersebut telah memetakan persebaran bahasa-bahasa di provinsi Bali, tetapi secara rinci belum memetakan dialek atau subdialeknya dan memerikan perbedaan unsur fonologis baik antarbahasa maupun antardialek.
Di dalam penelitian yang berjudul “Bahasa Bali di Propinsi Bali: Sebuah Pemerian Geografi Dialek”, Bawa (1983) memberikan gambaran situasi kebahasan di provinsi Bali yang diperoleh dari beberapa sumber. Dari informasi tersebut diketahui bahwa ada lima kelompok kecil penduduk Daerah Tingkat I Provinsi Bali yang menggunakan bahasa ibu selain bahasa Bali, tetapi kelompok kecil penduduk itu juga tahu bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Kelima kelompok kecil itu adalah (1) masyarakat Islam Melayu di Kabupaten Jembrana, di daerah sebelah selatan kota Negara, yang menggunakan semacam dialek Melayu Bali, (2) masyarakat Islam Bugis di selatan kota Denpasar, yaitu di desa Suwung Kangin dan desa Bugis di pulau Serangan serta masyarakat Bugis di kampung Bugis di kota Singaraja, yang menggunakan semacam dialek Bugis Bali, (3) masyarakat Islam Jawa di bagian barat pulau Bali yang menggunakan semacam dialek Jawa Bali, (4) masyarakat Islam Madura di bagian Barat pinggir utara pulau Bali yang menggunakan semacam dialek Madura Bali, dan (5) masyarakat Islam sasak di sekitar kota Amlapura di Kabupaten Karangasem, yang terletak di bagian timur pulau Bali, yang menggunakan semacam dialek Sasak Bali (lihat Peta 2).
Dilihat berdasarkan realisasi fonem vokal, Bawa mengelompokkan variasi bahasa Bali menjadi lima, yakni (1) bahasa Bali Baku, (2) bahasa Bali Daerah [a] yang terdapat di daerah Bali Aga, (3) bahasa Bali Daerah [|] yang terdapat di daerah di luar Bali Aga, kecuali Tabanan, dan (4) bahasa Bali Daerah [%] yang terdapat di beberapa daerah di Kabupaten Tabanan dan (5) bahasa Bali Daerah [O] yang terdapat pada beberapa desa pada beberapa wilayah di kabupaten Tabanan. Berdasarkan realisasi konsonan /t,d,s,n,l,r,k/, bahasa Bali dipilah atas (1) dialek dengan realisasi [.t .d .s .n .l .r ?]. Dilihat berdasarkan distribusi fonem, bahasa Bali dikelompokkan atas dialek yang mengenal fonem /h/, baik pada kata-kata serapan maupun kata-kata sehari-hari, pada posisi awal dan posisi antar vokal; dan kelompok dialek yang mengenal fonem /h/ pada kedua posisi tersebut hanya terbatas pada sejumlah kata serapan. Dengan melihat variasi fonologis dan leksikal, Bawa secara garis besar mengelompokkan bahasa Bali menjadi dua, yakni bahasa Bali Dialek Bali Aga atau Bali Pegunungan dan bahasa Bali Dialek Dataran.
Berawal dari penelitian Bawa, di Bali banyak dilakukan penelitian dialektologi dengan model yang sama dengan penelitian Bawa (1979/1980 dan 1983). Selain sebagai bagian penelitian Bawa, telah ada beberapa kajian dialek geografis terhadap bahasa Bali di Kabupaten Tabanan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Dhanawaty (1984, 1985) Dari kedua penelitian itu dapat diketahui bahwa di daerah Tabanan terdapat dua kelompok dialek, yaitu bahasa Bali dialek Bali Aga yang terdapat di daerah Sanda dan bahasa Bali dialek Dataran di daerah pengamatan lainnya. Dalam bidang fonologi, perbedaan terletak pada realisasi fonem /a/, /e/, /o/ dan /k/ pada posisi final, yang di dalam Dialek Bali Aga masing-masing direalisasikan dengan [O], [e], [o], [?].
Kajian dialek geografis terhadap bahasa Bali di Kecamatan Nusa Penida telah dilakukan oleh Madia (1984), yang mengkaji sistem fonologisnya berdasarkan dialektologi struktural dan oleh Adhiti (1984) yang meneliti variasi kosa katanya. Hasil penelitian Madia, secara garis besar, mengelompokkan bahasa Bali di Kecamatan Nusa Penida atas dialek pegunungan, dialek dataran, dan dialek Lembongan.. Di sisi lain, Adhiti yang memfokuskan diri pada variasi kosakata, mengelompokkan bahasa Bali di Kecamatan Nusa Penida ke dalam (1) Kelompok I dengan sebaran wilayah Batunungul, Kutampi, Ped, dan Toyapakeh; (2) Kelompok II dengan sebaran wilayah Klumpu, Sakti, Suana; (3) Kelompok III dengan sebaran wilayah Lembungan dan Jungut Batu, (4) Kelompok IV yang tersebar di wilayah Batumadeg, Batukandik, Tanglad, dan Sekartaji.
Kajian dialek geografi terhadap bahasa Bali di Kabupaten Karangasem dilakukan oleh Sukartha (1980). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa bahasa Bali di Karangasem dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (1) dialek [a] yang tersebar di daerah Bali Aga yakni Seraya, Bunutan, Tenganan; (2) dialek [O] yang terdapat di daerah Tangkup dan Antiga; (3) dialek [|] yang terdapay di titik pengamatan lainnya.
Penelitian sejenis telah merambah bahasa Bali pada semua kabupaten di Bali. Penelitian dialek geografis lainnya yang berobjekkan bahasa Bali, antara lain “Bahasa Bali di Kabupaten Klungkung: Sebuah Analisis Geografi Dialek” oleh Bawa (1985). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dialek-dialek bahasa Bali di Kabupaten Klungkung dilihat dari sudut kosakata, ternyata hanya memiliki dua dialek, yakni (1) dialek bahasa Bali dengan pusatnya di daerah Sekartaji, dan (2) dialek bahasa Bali dengan wilayah Bungbungan, Bakas, Negari, Selat, Besang, Gelgel, Besan, Kusamba, Jungut Batu, Batumadeg, dan Suana.
Dari tinjauan diakronis, hubungan kekerabatan bahasa-bahasa di provinsi Bali didapati bahwa bahasa Madura dengan bahasa Melayu Loloan dan bahasa Bali dengan bahasa Sasak memiliki hubungan kekerabatan yang lebih tinggi dibandingkan hubungan bahasa-bahasa itu dengan bahasa Jawa dan bahasa Bugis. Oleh karena itu, bahasa Madura dengan bahasa Melayu Loloan berada dalam satu simpai; begitu juga antara bahasa Bali dengan bahasa Sasak berada dalam satu simpai, sedangkan  bahasa Jawa dan Bahasa Bugis berada dalam simpai terpisah (Tim Pemetaan, 2006). Dengan demikian, kekerabatan bahasa-bahasa tersebut dapat digambarkan dalam diagram pohon berikut ini.

                         Diagram Pohon Kekerabatan Bahasa

 



                                                            BlSs
                                    MdMl                         

         Jawa          Mdr                Mly               Bali             Sasak                      Bugis

            Adapun penelitian yang dilakukan oleh Mbete, berkaitan dengan upaya menjelaskan hubungan kekerabatan antara tiga bahasa, yang oleh Dyen (1965) dikelompokkan dalam kelompok Bali (Balic subgroup) (bandingkan dengan Esser (1938)), yaitu bahasa Bali, Sasak, dan Sumbawa dengan melakukan rekonstruksi bahasa  Purbanya, yang disebutnya Protobahasa Bali-Sasak-Sumbawa. Oleh karena itu, penelitian ini hanya membahas masalah variasi yang terjadi pada level isolek yang dikategorikan sebagai bahasa dan karena itu belum menyentuh masalah yang terdapat dalam masing-masing bahasa.
4.2 Kerangka Teori
Secara teori penelitian ini berlandaskan pada kerangka teori dialektologi diakronis dan linguistik historis komparatif. Teori dialektologi diakronis digunakan dalam deskripsi perbedaan unsur kebahasaan yang terdapat di antara daerah pengamatan yang menjadi sampel penelitian. Perbedaan unsur kebahasaan dalam penelitian ini mencakupi perbedaan bidang fonologi dan leksikon.  Dengan kata lain, basis analisis dalam penelitian ini adalah fonologi dan leksikon. Alasan memilih kedua tataran linguistik ini adalah karena secara dialektologis bahasa-bahasa di dunia lebih banyak mengalami perubahan  (yang dapat mengakibatkan terjadinya perbedaan itu) pada kedua tataran tersebut. Tampaknya, perubahan yang terjadi pada kedua tataran linguistik ini sangat efektif dalam membentuk variasi dialektal. Perubahan pada tataran linguistik lainnya, terutama bidang gramatika, kurang efektif dalam menghasilkan  perubahan yang dapat membuat terpilahnya suatu isolek menjadi bahasa, dialek, atau subdialek yang berbeda. Hal ini disebabkan perubahan pada tataran gramatika cenderung menghasilkan bentuk baru yang disertai perubahan makna, padahal perubahan dalam membentuk suatu bahasa, dialek, atau subdialek baru hanya diperlukan pada perubahan bentuk dengan tidak mengarah pada perubahan makna.
            Pada dasarnya, perbedaan yang mendasar antara bentuk-bentuk yang dikategorikan sebagai bentuk yang berbeda secara fonologis dengan yang berbeda secara leksikal terletak pada dapat/tidaknya bentuk-bentuk yang berbeda itu dihubungkan pada sebuah bentuk purba yang sama. Apabila bentuk-bentuk yang berbeda itu dapat dihubungkan pada sebuah bentuk bahasa purba yang sama, maka bentuk-bentuk yang berbeda itu dikategorikan berbeda secara fonologis, sebaliknya jika bentuk-bentuk yang berbeda itu tidak dapat dihubungkan pada sebuah bentuk asal yang sama, maka perbedaan itu terjadi pada level leksikal. Sebagai contoh, pasangan bentuk yang berbeda dalam BS: don (DJ)  @ dìn (DT) @ dain (DTn) @ dIn (DSB) ‘daun’ merupakan pasangan yang perbedaannya dapat dikategorikan sebagai perbedaan pada level fonologis karena dapat dilacak pada asal yang sama, yaitu diturunkan dari bahasa purba yang sama, yaitu PAN/ PBSS * daun ‘daun’; sedangkan pasangan bentuk yang berbeda dalam bahasa yang sama: ayam (DJ, DT, DSB) ~ manok (DTn) ‘ayam’ merupakan dua bentuk yang dikategorikan sebagai bentuk yang berbeda pada level leksikal, karena masing-masing berasal dari bentuk purba yang berbeda.
Patut ditambahkan bahwa perbedaan pada level fonologi ini mencakup perbedaan yang bersifat teratur atau korespondensi dan perbedaan yang bersifat sporadis (tidak teratur) atau yang disebut variasi. Termasuk ke dalam perbedaan yang bersifat teratur ini adalah apa yang disebut sebagai korespondensi sangat sempurna, sempurna, dan kurang sempurna.
Perbedaan itu disebut korespondensi sangat sempurna apabila perbedaan yang disebabkan oleh perubahan bunyi itu terjadi pada semua data yang disyarati oleh kaidah perubahan serta sebaran geografisnya sama, sedangkan perbedaan yang berupa korespondensi sempurna juga terjadi pada semua data yang disyarati oleh kaidah perubahan, namun sebaran geografis antarcontoh yang satu dengan contoh yang lainnya tidak sama. Adapun perbedaan disebut korespondensi kurang sempurna jika perubahan bunyi itu terjadi pada 2—5 buah contoh dengan sebaran geografisnya sama; dan perbedaan disebut variasi, jika kaidah perubahan bunyi itu hanya terjadi pada sebuah atau dua buah contoh dengan sebaran geografis yang berbeda. Perbedaan yang berupa variasi ini dapat berupa, antara lain metatesis, asimilasi, disimilasi, apokope, sinkope, aferesis, kontraksi dll. (bandingkan Mahsun, 1995 dengan Crowley, 1987 dan Lehmann, 1973).
Adapun teori linguistik historis komparatif digunakan khususnya untuk analisis kekerabatan atau pengelompokan bahasa. Menurut teori ini bahwa bahasa-bahasa yang berkerabat yang memiliki tingkat kekerabatan yang lebih tinggi (persentase kekerabatannya tinggi) dapat dirunut keasalannya sebagai kelompok bahasa yang pada fase historis tertentu memiliki moyang bahasa yang sama sehingga bahasa-bahasa itu dapat diletakkan pada satu simpai dalam pohon kekerabatan bahasa; sedangkan hubungannya dengan bahasa(-bahasa) lain yang berada pada persentase kekerabatan yang lebih rendah, tetapi masih dalam satu rumpun, maka kedua kelompok bahasa itu dapat diletakkan dalam  simpai yang berbeda.  Sebagai contoh, Mbete (1990) memperlihatkan bahasa antara bahasa Sasak dengan bahasa Sumbawa, memiliki tingkat kekerabatan yang lebih dekat dibandingkan dengan hubungan kedua bahasa itu dengan bahasa Bali. Untuk itu, Mbete meletakkan kekerabatan ketiga bahasa itu dalam pohon kekerabatan, seperti diperlihatkan pada seksi 1.5.

5.      Metode
5.1    Pengumpulan Data
Pengumpulan data  untuk tahun 2007 dilakukan di 7 daerah pengamatan yang dilakukan oleh tenaga teknis Balai Bahasa Denpasar. Pengumpulan data ini merupakan pengumpulan data lanjutan. Sebelumnya, pengumpulan data dilakukan pada tahun 1997 yang terdiri dari 16 daerah pengamatan dengan pengumpul data dari guru-guru Bahasa Indoenesia yang berasal dari masing-masing daerah pengamatan dan tenaga teknis dari Balai Bahasa Denpasar. Kemudian, pengumpulan data dilanjutkan pada tahun 2006 dengan penambahan 17 daerah pengamatan baru yang dilakukan oleh tenaga teknis Balai Bahasa Denpasar.
Data yang dianalisis untuk penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara dengan mendatangi informan pada setiap daerah pengamatan yang telah ditentukan. Wawancara dilakukan dengan berpedoman pada daftar wawancara yang telah disiapkan sebelumnya. Daftar wawancara berisi dua ratus kosa kata dasar dan 200 kosa kata budaya dasar. Jumlah informan yang diwawancarai adalah tiga orang untuk setiap daerah pengamatan. Dari tiga orang itu ditentukan satu orang sebagai informan utama, sedangkan dua orang informan lainnya dijadikan sebagai informan pembanding.
            Dalam pemilihan informan digunakan kriteria sebagai berikut.
a.       Berjenis kelamin pria atau wanita.
b.      Berusia antara 30 - 65 tahun.
c.       Orang tua, isteri, atau suami informan lahir dan dibesarkan di desa tersebut.
d.      Berpendidikan maksimal sekolah dasar.
e.       Berstatus sosial menengah (tidak rendah dan tidak tinggi) dengan harapan tidak terlalu tinggi mobilitasnya.
f.        Pekerjaannya bertani atau buruh.
g.       Dapat berbahasa Indonesia
h.       Sehat jasmani dan rohani. Sehat jasmani maksudnya tidak cacat organ bicaranya, sedangkan sehat rohani, maksudnya waras, tidak gila
Selanjutnya, satuan unit penelitian yang dianggap sebagai satuan daerah pengamatan adalah desa. Namun demikian, jika daerah yang dijadikan daerah pengamatan itu memperlihatkan pemakaian isolek yang bersifat heterogen, maka satuan daerah pengamatan diturunkan pada tingkat dusun.

6.      Hasil
Hasil analisis setidaknya menunjukkan adanya tujuh kelompok pemakai bahasa di wilayah provinsi Bali. Ketujuh  kelompok bahasa itu ialah bahasa Bali, bahasa Melayu, bahasa Madura, bahasa Jawa, bahasa Bugis, dan bahasa Mandar. Akan tetapi, masih terdapat beberapa masalah dalam hal penentuan bahasa dan persebarannya.
            Pertama, kelompok bahasa Melayu, yaitu Desa Loloan (2), Celukan Bawang (29), dan Melaya (34) yang diperbandingkan dengan bahasa Bali, hampir semuanya menunjukkan status isolek sebagai ‘dialek’, kecuali dengan Desa Nusasari dan Desa Pecatu. Meskipun hanya dua desa yang mendukung bahwa bahasa Melayu merupakan bahasa yang berbeda dengan bahasa Bali, hal itu cukup menjadi bukti. Selain itu, letak antara desa-desa yang berbeda bahasa itu berjauhan sehingga dapat juga menunjukkan bahwa desa-desa itu masih mempertahankan keasliannya dan belum banyak mengalami kontak/sentuh bahasa dengan desa terdekat di sekitarnya.
            Kedua, kelompok bahasa Sasak, yaitu Desa Bukit Tabuan (21), Celukan Bawang (30), dan Tumbu (39) yang diperbandingkan dengan bahasa Bali, juga hampir semuanya menunjukkan status isolek sebagai ‘dialek’, kecuali dengan Desa Nusasari (1), Kepaon (10), Terunyan (24), Kayuputih (27), dan Sepang (28). Sama halnya dengan kasus antara bahasa Melayu dan bahasa Bali, adanya lima desa yang mendukung status ‘bahasa’ sudah cukup membuktikan keberadaan bahasa Sasak.
            Ketiga, daerah pengamatan (38), yaitu Desa Banyubiru, yang bersatus ‘dialek’ bila diperbandingkan dengan baik bahasa Melayu maupun bahasa Jawa, dan bila diperbandingkan dengan bahasa Bali pun, sebagian besar berstatus ‘dialek’, kecuali dengan Desa Nusasari. Meskipun hanya satu desa yang mendukung, cukuplah menjadi bukti bahwa Desa Banyubiru tidak tergolong bahasa Bali. Jadi, permasalahannya sekarang mengutub apakah Desa Banyubiru termasuk kelompok penutur bahasa Melayu atau bahasa Jawa. Salah satu parameter yang dapat digunakan yaitu dengan melihat rerata persentase dialektometri antara Desa Banyubiru dengan desa berpenutur bahasa Jawa dan Melayu. Berdasarkan data, Desa Banyubiru dengan desa berpenutur bahasa Jawa memiliki rerata 59,5%, sedangkan dengan desa berpenutur Melayu 75,4%. Ini artinya bahwa ternyata Desa Banyubiru lebih banyak memiliki persamaan dengan bahasa Jawa daripada bahasa Melayu. Dengan demikian, Desa Banyubiru dapat dikelompokkan ke dalam kelompok penutur bahasa Jawa.
            Banyaknya desa-desa, baik yang berpenutur bahasa Melayu, Jawa, ataupun Sasak, yang berstatus ‘dialek’ bila diperbandingkan dengan desa-desa berpenutur bahasa Bali dapat disebabkan oleh lingkungan sekitarnya. Artinya, desa-desa yang berpenutur bahasa non-Bali telah banyak dipengaruhi oleh desa-desa yang berpenutur bahasa Bali yang berada di sekitarnya. Kontak bahasa antardesa tersebut sangat mungkin terjadi dalam interaksi sehari-hari masyarakatnya dalam berbagai bidang, misalnya, perdagangan, pendidikan, kesehatan, hiburan, dan agama.
            Dalam bidang perdagangan, masyarakat desa itu sering melakukan transaksi antardesa tetangganya karena hasil produksi yang dimiliki masing-masing desa berbeda. Di bidang pendidikan, tidak semua desa memiliki sarana pendidikan yang lengkap sehingga banyak pelajar yang harus melanjutkan sekolah di luar desanya. Di bidang kesehatan, tidak semua desa memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Begitu juga di bidang hiburan, tidak banyak desa yang memiliki tempat-tempat hiburan sehingga masyarakatnya akan beramai-ramai akan mencari hiburan di luar desanya. Kesemuanya memberikan ruang yang sangat besar untuk terjadinya kontak bahasa.
            Akan tetapi, sesungguhnya faktor yang lebih mendorong terjadinya kontak bahasa adalah sarana dan prasarana transportasi yang semakin baik dan lancar yang memudahkan orang-orang untuk mengakses semua lokasi dan, tentunya, teknologi komunikasi yang semakin canggih, baik dengan keberadaan radio, televisi, dan telepon.
            Secara lengkap, persebaran bahasa-bahasa tersebut dapat dilihat di bawah ini. (lihat peta 4)
  1. Kelompok desa berpenutur bahasa Bali: Nusasari (1), Bungbungan (3), Pengeragoan (4), Bantas (5), Wangaya Gede (6), Luwus (7), Tihingan (8), Baha (9), Kepaon (10), Pecatu (11), Pupuan (13), Saba (14), Klumpu (15), Toya Pakeh (16), Kampung Gelgel (17), Tenganan (18), Kecicang (19), Seraya (20), Tianyar (22), Jehem (23), Terunyan, (24), Bukti (25), Pegayaman (26), Kayu Putih (27), Sepang (28), dan Banyu Poh (31).
  2. Kelompok desa berpenutur bahasa Melayu: Loloan (2), Melaya, Celukan Bawang (29), dan Melaya (34)
  3. Kelompok desa berpenutur bahasa Sasak: Dusun Bukit Tabuan (21), Celukan Bawang (30), dan Tumbu (39)
  4. Kelompok desa berpenutur bahasa Jawa: Desa Sumber Klampok (33), Desa  Wanasari (36), dan Desa Banyubiru (38 dan 40).
  5. Kelompok desa berpenutur bahasa Madura: Desa Sumber Klampok (32) dan Wanasari (35)
  6. Kelompok desa berpenutur bahasa Bugis: Desa Serangan (12)
  7. Kelompok desa berpenutur bahasa Mandar: Desa Sumber Kima (37)

7. Perbandingan Temuan Penelitian ini dengan Temuan Terdahulu
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan jika dibandingkan dengan penelitian pemetaan yang telah dilakukan pada 2006 lalu. Perbedaan itu terletak dalam hal jumlah bahasa dan daerah pakai bahasa, seperti yang tampak pada tabel di bawah ini.

Penelitian 2007
Penelitian 2006
Jumlah Bahasa
7
6
Nama Bahasa
Bali
Bali

Melayu
Melayu

Bugis
Bugis

Sasak
Sasak

Jawa
Jawa

Madura
Madura

Mandar

Daerah Pakai
Melayu: Loloan, Melaya, Celukan Bawang
Melayu: Desa Loloan

Bugis: Serangan
Bugis: Serangan, Celukan Bawang

Sasak: Bukit Tabuan, Celukan Bawang, Tumbu (ujung)
Sasak: Bukit Tabuan, Celukan Bawang

Jawa: Sumber Klampok, Banyubiru, Wanasari
Jawa: Sumber Klampok

Madura: Sumber Klampok, Wanasari,
Madura: Sumber Klampok

Mandar: Sumber Kima





Dari segi jumlah bahasa, penelitian tahun ini menemukan satu tambahan pemakaian bahasa, yaitu bahasa Mandar, di Desa Sumber Kima, Kabupaten Singaraja. Jadi secara keseluruhan, penelitian ini telah berhasil mengidentifikasi tujuh bahasa di wilayah provinsi Bali.
Selain penemuan pemakaian bahasa Mandar, penelitian ini juga menemukan perubahan status isolek di Desa Celukan Bawang., Pada penelitian tahun 2006, desa ini masuk ke dalam desa yang berpenutur bahasa  Bugis dialek Celukan Bawang, namun, pada penelitian ini teridentifikasi sebagai bahasa Melayu dialek Celukan Bawang.
Perubahan status isolek yang terjadi pada bahasa  Bugis di Celukan Bawang ini bisa disebabkan oleh perbedaan teknik analisis. Pada penelitian tahun 2006, teknik yang digunakan adalah kombinasi antara segitiga dialektometri dan permutasi antarbahasa. Penggunaan segitiga dialektometri hanya dapat menghasilkan perbandingan antardaerah pengamatan yang berdekatan yang memungkinkan untuk terjadinya kontak bahasa. Permutasi antarbahasa dilakukan hanya pada antardaerah yang diperkirakan memiliki status bahasa. Jadi, penggunaan kombinasi teknik tersebut masih menyisakan cukup banyak daerah pengamatan yang belum diperbandingkan sehingga terbuka kemungkinan daerah-daerah tersebut sesungguhnya juga berperan penting dalam menentukan status isolek suatu daerah.
Pada penelitian ini, teknik analisis yang digunakan untuk perhitungan dialektometri adalah permutasi penuh. Jadi, semua daerah pengamatan diperbandingkan secara penuh sehingga dari 40 daerah pengamatan dihasilkan 780 perbandingan. Pengubahan teknik ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa perkembangan teknologi komunikasi sudah semakin maju sehingga interaksi tidak lagi dibatasi oleh ruang. Dengan sendirinya, kontak bahasa pun tidak lagi dibatasi oleh ruang. Sebuah daerah tidak hanya dipengaruhi oleh daerah terdekat di sekitarnya, melainkan dapat juga dipengaruhi dari daerah yang jauh lokasinya.
Dalam hal daerah pakai bahasa, pada penelitian ini terdapat beberapa penambahan, di antaranya bahasa Melayu di Desa Melaya, bahasa Sasak di desa Tumbu, bahasa Jawa di Desa Wanasari dan Desa Banyubiru, dan bahasa Madura di Desa Wanasari.



Daftar Acuan


-----. 1997. Kuesioner Kosa Kata Dasar dan Budaya Dasar: Penelitian Kekerabatan dan Pemetaan Bahasa di Indonesia. Jakarta. Depdikbud
-----. 2004. Historilogi Perubahan Master File Desa dan Kerangka Contoh Induk Provinsi Bali 1998—2004. Denpasar: Badan Pusat Statistik
Aitchison, Jean. 1991. Language Change: Progress or Decay. London: Cambridge University Press
Arlotto, Anthony.1972. Introduction to Historical Linguistics. Boston: University Press of America
Bagus, I Gusti Ngurah. 1971. Dialek Sembiran dan Sepang di Bali. Singaraja: Lembaga Bahasa Nasional
Bawa, I Wayan, dkk. 1991. Geografi Dialek Bahasa di Kabupaten Klungkung, Bali.
------, I Wayan. 1977. Dialek Bangli dalam Seminar Dialektologi, Tugu, 18—21 Juli 1977. Denpasar: Pusat Pembinaan dan Pengembanagn Bahasa
------, I Wayan. 1986. Bahasa Indonesia Dialek Bali. Denpasar: proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Bali
Campbell, Lyle. 1998. Historical Linguistics: An Introduction. Edinburgh: Edinburgh University Press
Denes, I Made, dkk. 1982. Geografi Dialek Bahasa Bali. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Denes, Made dan Wajan Djendra. 1973. Dialek Bugbug. Singaraja: Lembaga Bahasa Nasional
Dhanawaty, Ni Made. 2002. Variasi Dialektal Bahasa Bali di Daerah Transmigrasi Lampung Tengah. Yogyakarta: Disertasi Doktor pada Universitas Gajah Mada
Herusantosa, Suparman. 1977. Dialek Bahasa Bali Kelompok Islam di Daerah Tingkat II Buleleng dalam Seminar Dialektologi, Tugu, 18—21 Juli 1977. Singaraja: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Ibrahim Abd. Syukur dan Machrus Syamsudin. 1979. Prinsip dan Metode Linguistik Historis (Terjemahan). Surabaya: Usaha Nasional
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Lauder, Multamia RMT. 1997. Pedoman Pengenalan dan Penulisan Bunyi. Jakarta: Pusat Pembinan dan Pengembangan Bahasa
-----. 1998. Usaha Melacak Bahasa-Bahasa Nusantara dalam PELBBA 12, Jakarta, 23—4 Oktober 1998
-----. 2002. Reevaluasi Konsep Pemilah Bahasa dan Dialek untuk Bahasa Nusantara dalam Makara, Sosial Humaniora, Vol. 6, No. 1, Juni 2002
Lehmann, W. P. & Yakov Malkiel. 1968. Direction for Historical Linguistics: A Symposium. Austin: University of Texas Press
Madia, I Made. 1984. Variasi Sistem Fonologi Bahasa Bali di Nusa Penida: Sebuah Kajian Dialektologi Struktural. Singaraja: Balai Penelitian Bahasa
Mahsun, 1995. Dialektologi Diakronis: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
-----. 2005. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Raja Grafindo Persada
-----. 2006. Kajian Dialektologi Diakronis di Wilayah Pakai Bahasa Sumbawa.Yogyakarta: Gama Media
-----. 2006. Kajian Dialektologi Diakronis Bahasa Sasak di Pulau Lombok. Yogyakarta: Gama Media
-----. 2006. Distribusi dan Pemetaan Varian-Varian Bahasa Mbojo. Yogyakarta: Gama Media
Meilllet, Antoine. 1970. The Comparative Method in Historical Linguistics. Paris: Librairie Honore Champion
Parera, Jos Daniel. 1991. Kajian Linguistik Umum Historis Komparatif dan Tipologi Struktural. Jakarta: Erlangga
Reoni, Ketut, dkk. 1986. Fonologi Bahasa Bali. Denpasar: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Bali
Rocca, Iggy & Wyn Johnson. 1999. A Course in Phonology. Massachusetts: Blackwell
Sudiartha, I Wayan.1991. Isoglos Variasi Kosa Kata Bahasa Bali di Kabupaten Tabanan: Sebuah Kajian Geografi Dialek. Denpasar: Balai Penelitian Bahasa Denpasar
Sumarsono. 1993. Pemertahanan Bahasa Melayu Loloan di Bali. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta; Balai Pustaka
Tim Pemetaan Balai Bahasa Denpasar. 2006. Kekerabatan Dan Pemetaan Bahasa-Bahasa di Provinsi Bali. Denpasar. Balai Bahasa Denpasar
Trask, R. L. 2000. The Dictionary of Historical and Comparative Linguistics. Edinburgh: Edinburgh University Press
Tucker, Irene, et.al. Language of Indonesia. Jakarta: SIL International Branch



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar